Tempat Wisata Yang Keren

Tempat Wisata Yang Keren
Viku Furniture
Informasi Pengirim
Pengirim: Robby Ikrom
http://harapliburan.com/
Reciprocal Link: N/A
ebelum memutuskan untuk pergi ke Tanjung Bongo, salah satu pantai yang belum terjamah ini, saya dan ketiga teman seperjalanan saling melontarkan pertanyaan. “mau pergi kesana kah?” tanya awan yang pernah ke Tanjung Bongo sebelumnya. “kalau aku tergantung yang lain, kalau semua kuat kita kesana kalau satu nggak kuat, mending jangan kesana. Kan kita mengikuti yang nggak” jawab saya. “Te miluang siq lemah keh” lanjut maman jika di bahasakan dalam bahasa daerah Lombok. Sedangkan Oni hanya diam, mungkin karena lelah berjalan.

Tidak ada yang tahu satu pun dari kami kenapa dinamakan Tanjung Bongo, bahkan kata awan, tidak ada yang tahu tempat Tanjung Bongo ini sebelumnya. Namun jika diartikan dalam segi bahasa: bongo adalah bahasa sasak (bahasa daerah Lombok) yang artinya bodoh. Namun saya tidak yakin jika arti dari Tanjung Bongo adalah Tanjung Bodoh, pasti ada arti di balik nama Tanjung Bongo.

Tanjung bongo berada di dekat Tanjung Aan sehingga jika ingin pergi ke Tanjung Bongo harus melalui Tanjung Aan terlebih dahulu. Jika pergi dari Pantai Kuta menuju Tanjung Aan akan memakan waktu sekitar 7 menit, lalu dilanjutkan dari Tanjung Aan menuju Tanjung Bongo memakan waktu sekitar 15 menit dengan berjalan kaki, namun sebelum pergi ke Tanjung Bongo, yang perlu di persiapkan adalah air minum yang cukup karena jika lupa membawa persediaan air minum, sesampai di Tanjung Bongo pasti akan merasa dehidrasi karena harus menaklukan track Bukit Merese yang sangat melelahkan di tambah lagi dengan cuaca yang panas. Tapi saya yakin, jika sudah berada di atas Bukit Merese rasa lelah kalian akan terbayar tuntas dengan keindahan yang di dapat. Dari atas Bukit Merese, saya dapat melihat dengan jelas bentangan keindahan Tanjung Aan dan dari kejauhan saya dapat melihat batu payung. Liburan saya kali ini seperti mendapatkan dua paket liburan yaitu wisata ke pantai dan wisata bukit di Lombok.

Tanpa Mengenal Lelah, Menuju Salah Satu Pantai yang belum terjamah

Jauhnya track yang kami tempuh ditambah medan yang berat bagi kami, membuat kami harus beristirahat sebentar di Bukit Merese. Di antara kami berempat, yang terlihat paling bersemangat dan tidak merasa lelah sedikitpun adalah Maman, mungkin karena ia sering bermain basket sehingga untuk menaklukan Bukit Merese sangat mudah baginya.

Setiba kami di ujung barat bukit merese, sudah terlihat jelas keindahan Tanjung Bongo. Benar kata awan, tidak ada satupun orang di sana, pasirnya pun sangat bersih dan tidak terlihat satu pun sampah jika dilihat dari atas Bukit Merese. Track yang akan kami lalui menuju Tanjung Bongo lebih berat daripada Bukit Merese. Awan menyarankan pada kami untuk melepas sandal agar tidak terpeleset dan jatuh. Track menuju kesana memang sangat berat, jalan yang kami lalui cukup curam sehingga kami harus hati-hati dalam melangkah agar tidak terpeleset. Hampir sepanjang jalan menuruni Bukit Merese terdapat tanaman berduri dan jika terpeleset lalu jatuh, dipastikan akan jatuh ke tanaman tersebut. “Untung nggak bareng cewek” ungkap Oni, yang berada di belakang saya. “Pasti ribet kalau sama cewek”, lanjut Maman. “Tapi kalau cewek yang pencinta alam pasti mudah ini” ungkap Awan.

Ketika sampai di Tanjung Bongo, saya mendengar ungkapan kekecewaan dari Awan ketika melihat keadaan Tanjung Bongo tidak seperti dulu ketika Ia pertama kali mengunjunginya. “Ekek” ungkap Awan dalam Bahasa Sasak, jika diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah menjijikan. “banyak sampah sekang, udah sebersih dulu” lanjut Awan mengekspresikan kekesalannya pada pengunjung yang meninggalkan sampah. Sampah di Tanjung Bongo memang tidak terlalu banyak, kebanyakan sampah di sana adalah botoh plastik, kantong plastik, dan bungkus makanan. Walaupun tidak terlalu banyak, namun Awan merasa kesal karena dulu tidak ada sedikitpun sampah yang ia temui. Tapi menurut saya, walaupun ada sampah di sana tidak membuat keindahan Tanjung Bongo berkurang sedikit pun.

“Ayo mandi” ajak Maman yang sudah basah saat di Pantai Mawun, sedangkan Oni mandi ketika berada di Pantai Seger, hanya saya dan Awan yang tidak mandi walaupun sudah mengunjungi 3 pantai. Berenang di Tanjung Bongo ini cukup berbahaya karena berdekatan dengan laut lepas, oleh karena itu ombak di sini sangat besar padahal kami ke sana saat air sedang surut, tidak hanya itu, terdapat batuan besar di bibir pantai yang membuat berenang di sana cukup merngerikan, sangat berbahaya jika terseret ombak lalu dihempaskan ke arah batu besar tersebut.

Tidak ada pengunjung di Tanjung Bongo selain kami berempat, tapi sepertinya ada pengunjung lain sebelum kami, terbukti adanya jejak kaki dan tulisan “sipit :D” di pasir Tanjung Bongo. Tanjung Bongo sangat cocok untuk disebut pantai untuk bersantai karena tidak akan ada orang lain yang melihat dan mengganngu karena Tanjung Bongo ini hampir di kelilingi oleh tebing Bukit Merese yang tinggi kecuali orang lain ingin bersusah payah melewati Bukit Merese. Suasana yang sepi, sejuk, tenang dan juga ukuran Tanjung bongo yang sangat kecil berkisar 40m x 15m benar-benar sangat cocok menenangkan pikiran tanpa ganguan orang lain. “coba aja ada tempat duduk dengan payung beserta minuman dingin pasti akan lebih menyenangkan” batin ku.

Tidak seperti Maman dan Oni yang pergi berengan sambil ber-selfie ria dengan action cam, Saya dan Awan hanya duduk santai sambil ngobrol ngawur-ngidul. “kalo kesini siang-siang di sana ada seperti kolam” jelas Awan sambil menunjuk batu tempat kolam tersebut terbentuk. Setelah satu jam lebih menghabiskan waktu di Tanjung Bongo, kami pun bersiap-siap untuk pergi ke tujuan selanjutnya yaitu Tanjung Aan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Tanjung Bongo, hanya cukup melewati Bukit Merese saja.

Ternyata, menaiki Bukit Merese dari Tanjung Bongo lebih melelahkan dari apa yang saya pikirkan, kaki dan punggung saya terasa sakit ketika sudah berada di atas. Padahal bukit yang kami naiki tidak terlalu panjang walaupun cukup terjal. Ternyata tidak hanya saya yang mengeluh kesakitan, ketiga teman saya pun juga merasa kesakitan dan kelelahan. “Masih di ujung kita ini, belum melewati Bukit Merese” kata awan. Melihat bukit merese yang luas membuat semangat saya luntur. Walaupun dalam keadaan lelah kami tetap melanjutkan perjalanan melewati Bukit Merese tanpa beristirahat sedikit pun, namun kami memilih jalan memutar untuk menghindari tanjakan bukit.

Menuju Tanjung Bongo, Pantai Yang Belum Terjamah

Tanjung Bongo tidak terlalu jauh Kota Mataram, hanya perlu menempuh perjalanan 1,5 jam dan perjalanan 30 menit saja dari Bandara Internasional Lombok. Jika kalian adalah pengunjung dari luar Pulau Lombok, jangan khawatir dengan penginapan dan makanan. Di Pantai Kuta yang berjarak 6 km dari Tanjung Bongo terdapat banyak hotel dan homestay serta restaurant dan warung-warung kecil.

Untuk menuju ke Tanjung Bongo, salah satu pantai yang belum terjamah ini yang terletak di ujung barat Bukit Merese, terlebih dahulu harus memasuki kawasan Pantai Kuta lalu menuju Tanjung Aan. Untuk memasuki kawasan Tanjung Aan hanya membayar Rp. 5000/motor dan Rp. 10.000/mobil, sudah termasuk biaya parkir kendaraan. Tanjung Aan dan Bukit Merese memiliki jarak yang sangat dekat, akses menuju Bukit Merese cukup dengan berjalan kaki


Approved by: Direktori Weblogger - Follow Us on Facebook - Twitter 


Your Ads:

Direktori Weblogger
Direktori Weblogger, Updated at: 20.27

Posting Komentar